Ironman Gurye, 10 September 2017

PEMBUKAAN

Semua berawal dari kolam renang Emerald circa Desember 2013, pertama kali saya ngobrol dengan yang namanya Chaidir Akbar. Waktu itu, saya baru menyelesaikan Half Marathon pertama saya di SCHM 2013, tertatih2 dan belum kenal namanya training plan. Idir tanya, “Lo ga mau ikut triathlon?” Saya masih idealis, jawab pengen nyobain Marathon dulu, belum tertarik sama yang namanya triathlon, bahkan pengen nyoba aja ga.

Fast forward hampir 4 tahun setelah itu, here am I, crossing the finish line of an Ironman. Jarak yang dulu bahkan terlintas di pikiran saya saja tidak.

finish.jpg

WHY GURYE

Perjalanan sampai disini cukup panjang, setelah 2x 70.3 di tahun 2015 dan 2016, saya merasa 2017 harus ada sesuatu yang baru. Belum merasa siap sebenarnya untuk maju ke 140.6, tapi heyy, sampai kapan pun tidak akan siap kalau tidak dicoba dari daftar.

Mencari race 140.6 yang masuk udget (baca : murah) pun cukup sulit, begitu Ironman Gurye buka dan sementara menunggu Langkawi belum ada kepastian, maka setelah diskusi sama Bugs, Haryo dan Rihan akhirnya memutuskan untuk daftar Gurye mendekati masa promo untuk cashback USD 100 berakhir. Pendaftaran yang masuk budget ditambah cashback akhirnya memulai langkah saya untuk journey to 140.6.

TRAINING

Setelah daftar maka selanjutnya adalah mencari training plan. Pilihan jatuh ke training plan dari trifuel untuk building base dari bulan Maret – Juni dan training plan dari Hasbi untuk 12 weeks-nya. Tapering nya combine dari keduanya.

Setelah ada training plan, selanjutnya adalah kapan waktu untuk latihannya? Bagi yang belum tau, rumah saya di Bintaro dan kantor saya di Sunter. Perjalanan pergi dan pulang bisa makan waktu 3-4 jam sehari. Akhirnya memutuskan untuk latihan either early in the morning atau pada saat lunch time. Rutinitas ini yang saya jalanin dari Maret – September, sering colongan untuk datang telat atau pergi early lunch untuk latihan. Jadwalnya biasanya sih Selasa renang, Rabu lari/sepeda, Kamis lari/sepeda, Jumat renang, Sabtu long ride/brick, Minggu lari bersama BTR. Rutinitas ini agak berubah pada saat memasuki bulan Romadhon, dimana latihan lari dan sepeda berubah ke malam sedangkan renang di weekend sebelum buka puasa.

Untuk building base, concern nya adalah zona 2-3 untuk semua disiplin. Zona 2-3 inilah yang membantu meningkatkan endurance dan mempersiapkan untuk masuk ke 12 weeks training plan-nya. Untuk renang masih banyak repetisi2 pendek yang jumlah set nya variasi antara 6-10x. Sepeda untuk main set-nya juga masih banyak di 20-30 menit zona 2-3, sedangkan lari hampir semuanya tempo kombinasi jarak dan waktu (di fase ini saya banyak ditemani PaDon, Adhit dan Bang Deddy).

The real training plan dimulai akhir-akhir bulan Romadhon dimana akhirnya saya memutuskan skip 2 minggu awal dan langsung masuk ke minggu ke-3 pas sekali setelah lebaran. 12 minggu ini terdiri dari 5 minggu persiapan, 1 minggu easy, 3 minggu hard, 1 minggu easy, 2 minggu tapering. Pada saat ini, latihannya sudah tidak di zona 2 lagi, tetepai lebih banyak ke zona 3-4, dan ada beberapa sesi lari dan renang yang meminta kita untuk ke zona 5. Banyak adjustment saya lakukan disini, pertama karena di tengah2 training, Alhamdulillah diberikan kepercayaan untuk dapat anak kedua sehingga ada untuk minggu easy di tengah2 training plan saya skip. Keputusan inilah yang saya sesalkan, karena ternyata hal ini tidak boleh dilakukan soalnya di minggu ke 9-10 badan rontok. Penyebabnya adalah ya kurang easy week membuat badan lo ga ada istirahatnya. Jadi saran saya, untuk para calon Ironman jangan remehkan easy week (apalagi kalau harus sambil working life balance).

H-3

Kami team Indonesia adalah 13 orang yang terdiri dari 7 orang dari Jakarta, 1 orang dari Semarang, 4 orang dari Bali dan 1 orang dari China. Team Jakarta dan Semarang berangkat hari Rabu menjelang tengah malam dari Jakarta, karena hari Kamis dialokasikan perjalanan dari bandara ke Gurye makan waktu kurang lebih 4 jam. Sampai di Gurye sudah sore dan sepeda belum ada. Sampai malam sepeda belum datang sampai akhirnya kami mulai panik dan meminta tolong pemilik hotel untuk menanyakan sepeda kami. Tidak lama ada lokal panitia yang datang dan mulai kami “ontrog” menanyakan sepeda kami, akhirnya ada 1 orang yang sangat baik hati untuk mencarikan sepeda kami. Beliau adalah Mr. Moon Seung-Nam, dia berputar-putar hotel untuk mencarikan sepeda kami dan akhirnya berhasil menemukan sepeda kami kira-kira 500 meter dari hotel tempat kami tinggal. 9 bike box (termasuk punya 1 orang Hong Kong), ditinggal di lobby hotel begitu saja.

Jumat pagi kami mencoba untuk test rute sekalian untuk test sepeda, siangnya kami belanja di expo yang cukup memancing emosi.

Sabtu kami melakukan swim test dan air danau tempat kami berenang cukup dingin. Saya sempat panik dan kaget pada saat masuk air. Dan pada saat keluar air saya merasa sangat tidak percaya diri untuk swim leg esok hari. Sabtu sore kami melakukan compulsory bike check in. Kami memilih waktu sore hari supaya sepeda tidak terkena panas cukup lama. Sepulangnya dari bike check in, ternyata kami sudah ketinggalan shuttle kembali ke area hotel (dalam hati saya, kepikiran Haj Idir, Roy, Maya, Mami Vitri dan Cieko, ketinggalan shuttle di PJ 2016). Akhirnya kami minta panitia untuk dipanggilkan taxi.

indonesia.jpg

Highlight lain sebelum masuk ke race adalah sangat susah menemukan orang Korea yang lancar atau bahkan mengerti bahasa Inggris, dan ini cukup membuat saya emosi. Beberapa kali kami sampai kesulitan untuk menyampaikan maksud kami untuk memesan makanan, membeli sesuatu, menanyakan apakah makanan ini mengandung babi atau tidak. Nah oleh karena itu, sebaiknya apabila ingin mengikuti Gurye mungkin sebaiknya menguasai basic Bahasa Korea (walaupun ternyata ada teman saya yang mengerti Bahasa Korea tetapi pura-pura tidak mengerti).

RACE DAY

Ketika alarm saya berbunyi pada pukul 3 dini hari, saya merasa masih ngantuk dan memutuskan untuk menunggu alarm selanjutnya pada pukul 3.30.

Setelah bangun segera saya makan 1 buah pisang dan 2 lembar roti gandum yang saya bawa dari Bintaro. Karena waktu subuh adalah pukul 4.42 maka kami memutuskan untuk ikut jadwal shuttle pukul 5 pagi setelah sholat subuh. Dalam hati tegang bukan main, dan saya berkali-kali berusaha menenangkan diri. Tidak banyak perbincangan pagi hari itu antara saya dan roommate saya, hanya beberapa jokes kecil dan perbincangan tidak perlu. Sampai di venue, saya segera berpisah dengan roommate saya untuk menuju sepeda masing-masing. Sebelumnya saya sempat memasukkan jam Suunto saya ke run bag untuk cadangan. Setelah selesai memompa sepeda dan menyiapkan air minum maka saya segera menuju special need drop bags dan saya makan ¼ bar sambil menunggu toilet. Saya juga sempat meminum 1 buah gel sebelum menuju pontoon renang.

Swim start untuk Gurye adalah rolling start dibagi 5 orang per 30 detik. Saya kebagian di barisan agak depan dan menurut roommate saya, muka saya sangat tegang. Ya memang betul tegang, karena HR saya sudah tembus 100, siapa yang tidak tegang. Akhirnya saya hanya mengucap Bismillah (sesuai pesan dari Pak Erte Hasbi) dan langsung terjun ke air. Berenang dengan tenang dan santai, sampai di putaran pertama saya sempat lihat pace saya 02:17/100 meter. Antara senang dan khawatir, senang karena ternyata saya berenang cukup cepat (target saya di 02:35-02:40/100 meter) tapi khawatir takut HR saya melonjak. Akhirnya saya menyesuaikan pace sesuai target saya dan akhirnya berhasil menyesuaikan swim leg dengan 01:37:54, Alhamdulillah masih dibawah target saya 01:45:00. Target lain yang tercapai adalah selesai swim dengan badan fresh juga tercapai. Bisa dilihat dari senyum saya di foto ini.

renang.jpg

Pada saat swim leg ini, saya selalu terinagt teman saya, Imelda Djatirman, teman yang selalu memotivasi saya untuk menyelesaikan 3.8 kilo, Thanks Mel, untuk motivasinya. (Suatu saat dia pernah bilang, “Percuma lo bagusin sepeda dan lari kalau renang lo ga selesai, tetep aja lo DNF!!!).

Masuk transisi dengan high adrenaline, dan saya tidak mau terburu-buru. Sempat makan 1 lembar roti sambil membuka wetsuit dan memakai sepatu sepeda. Sempat ngobrol dengan peserta dari Korea, dan akhirnya keluar transisi setelah 19 menit (my bad, kelamaan). Menuju sepeda saya makan 1 gel.

Plan saya di sepeda adalah antara 6 jam – 6.30 jam. Selama sepeda saya berusaha meyakinkan bahwa ini adalah race saya dan saya harus sabar dengan speed saya. Selama 6 jam 36 menit dan 7 detik saya berusaha menjaga HR dan power. Power tidak boleh melebihi 70% kecuali untuk tanjakan dan HR harus berkisar di 140-145 bpm. Rute Gurye yang katanya flat ini, memiliki elevation gain 1.225m (menurut jam garmin saya sekitar 1.150m). Keluar transisi jalanan sudah nanjak halus sampai dengan akhirnya bertemu dengan titik tertinggi dalam race ini. Tanjakan ini mirip tanjakan Bagol – Tambud. Karena masih awal race, saya masih enjoy saat melewati tanjakan ini. J Saya disalip Xtoredy di tanjakan ini dan pada saat diujung tanjakan bertemu dengan Fedi. Setelah tanjakan rute sepeda nya masuk ke jalanan lebih kecil (seperti jalanan pedesaan di Indonesia) dengan kiri kana pamnadangan danau tempat berenang sebelumnya dan sawah-sawah. Cuaca yang dingin dan matahari yang belum keluar sangat membantu saya selama 4 jam pertama. Rute sepeda setelah melewati sawah adalah masuk ke (seperti) hutan dengan pohon rindang di kiri kanan. Para peserta harus menempuh 3 loop di dalam rute ini sebelum kembali ke transisi. Ada 1 tanjakan yang medium tapi karena dilalui 3x ya tetap saja berasa eneg. Dan 1 satu sesi rute sepeda yang sepertinya flat/turunan tapi kita tidak bisa tambah speed karena headwind (FTP saya menunjukkan 80-90%, tapi speed mentok di 25 kpj). Menjelang loop ketiga, jam saya terpencet ke transisi 2 (kesel!!) sehingga saya tidak tahu sudah berapa lama dan berapa jauh di bike leg ini. Memulai dari awal, hanya untuk penanda kapan saya harus minum dan makan. Setelah selesai 3 loop, perjalanan ke transisi juga tidak kalah nanjak dan headwind, karena kita berkendara di jalan tol. Sempat merasa frustasi disini dan ingin cepat menyelesaikan bike leg. Banyak berkontlempasi pada diri sendiri disini, dan mencoba untuk lebih sabar tidak terpancing speed dari peserta lain. Akhirnya setelah melihat danau tempat renang saya sangat senang dan berarti transisi sudah dekat. Selama bike leg, saya menghabiskan 4 gel biasa, 1 gel caffeine (pada jam ke-4), 2 buah roti (setelah jam ke-3 dan menjelang jam ke-5) serta 1 buah beng-beng yang saya bawa dari Indonesia. Banyak? Iya sih, tapi sesuai dengan diskusi dengan Hasbi dan Azlan, waktu untuk makan adalah di sepeda sehingga saya maksimalkan untuk intake.

Elevation gain bike leg

Masuk ke transisi kedua, badan memang sudah berasa capai tetapi pikiran masih fresh. Rencana di transisi kedua ini saya juga melaksankan sholat Dzhuhur dan Ashar. Tidak banyak yang saya lakukan disini dan memakan waktu 21 menit.

Masuk run leg, kaki dan HR masih sangat mendukung, plan saya adalah lari dan istirahat di setiap WS. Rute lari ini adalah mengelilingi danau tempat swim leg lalu melakukan 3x loop sejauh 12 kilo. Sampai dengan KM 17, plan ini berjalan sesuai rencana, walaupun jalanan ternyata naik turun tapi saya happy. Bahkan saya sempat bilang ke Xtoredy, “Jangan lupa senyum biar fotonya bagus.” (ternyata Xto sudah lewatin tanjakan, makanya muka nya asem). 3 WS awal saya minum coke yang masih ada sodanya, akibatnya memasuki KM 19, asam lambung mulai naik dan akhirnya muntah pada KM 20. Setelah itu saya mencoba run walk dan strategi ini berhasil sampai KM 30. Untuk mencegah meningkatnya asam lambung saya makan biscuit yang disediakan di setiap WS dan juga sempat makan cream sup 2x. Rencana tinggal rencana, KM 32 saya benar-benar habis. Asam lambung sudah terasa sampai menekan di dada, untuk lari pun sulit. Saya coba untuk muntahkan dan terasa enak. Sampai dengan KM 36 saya full jalan. Melewati KM 36, target saya adalah yang penting finish sub 15 jam. Akhirnya saya mencoba run walk dengan patokan pohon dan rambu lalu lintas. Capai di badan sudah saya suruh diam, teringat kata Hasbi disini “semua orang juga capek kayak kita”. Setelah itu saya hanya cepat ingin melihat karpet merah tanda finish. Pada saat menginjak karpet merah perasaan saya benar-benar flat, yang tadinya saya kira akan menangis, ternyata tidak. Malah saya celingukan mencari team Indonesia lainnya. Akhirnya setelah hampir 6 jam menempuh 42 kilo, saya berhasil menyelesaikannya.

Setelah 14 jam 49 menit 12 detik, akhirnya saya resmi menjadi Ironman. One of bucket list sudah terlewati.

 

POST RACE

Post race saya masih celingukan mencari teman-teman Indonesia, ternyata mereka sedang makan. Beberapa saat setelah bertemu mereka akhirnya keluar semua isi perut saya, air semua. Dan badan yang tadinya lemas berangsur membaik. Malam itu kami lewati sambil membahas race, dan yang terpenting 13 orang dari kami berhasil menyelesaikan race undet CoT 17 jam.

Ironman blues masih saya alami sampai dengan saya menulis ini, saya akui saya masih belum bisa move on. Setelah hamper 6 bulan hidup untuk latihan, saat ini saya belum tau ke depannya mau apa. Apakah saya ingin ikut full Ironman lagi? Tentu saja, tapi saya belum tau kapan. Saya masih belum siap untuk memulai latihan se-intense itu lagi.

Ironman Gurye akan saya rekomendasikan kepada seluruh teman-teman, baik yang telah beberapa kali Ironman maupun newbie. Pro-nya adalah aspal yang mulus, udara yang bersih, cuaca yang mendukung adalah beberapa alasan untuk ikut. Belum lagi harganya yang cukup murah (semoga tahun depan tetap murah). Sedangkan kontra-nya adalah jarak yang cukup jauh dari bandara, banyak orang yang tidak bisa berbahasa Inggris dan sulitnya untuk mencari makanan (terutama yang Halal). Tetapi untuk pengalaman sekali seumur hidup, saya sangat merekomendasikan untuk mencoba mengunjungi Gurye. Ironman Gurye ini sebenarnya newbie friendly course, terbukti 700+ peserta dari 1.548 peserta adalah first timer, yang berarti seluruh peserta yang daftar termakan iklan flat bike and run. Hahahahaha.

Last but not least, terima kasih untuk keluarga saya yang sudah mendukung journey ini, terutama istri dan anak saya. Teman-teman Bintaro Trojan Runners yang sudah saya anggap saudara. Teman-teman senior di Triathlon Buddies yang sudah sering saya tanya-tanya hal ga penting.  Dan terakhir teman-teman Indonesia team di Gurye :

  1. Haryo, my roommate, gua bakal kangen ke-bahlul-an lo.
  2. Xtoredy, my training partner dan Inta yang udah ikut dan support kita.
  3. Bugs, yang udah urusin hotel dan teman diskusi dan Chitra yang udah gua titipin semuanya
  4. Kelvin, Mr. Speedy
  5. Eko, the calm guy dan Cheril.
  6. Mas Gung dan Mba Lia, panutan
  7. Willy, paling pengalaman diantara kami dan Mba Meri.
  8. Handi, Fedi dan Ryan, the Ironboyz dan Michelle alias McD (cari tau SDSB artinya apa yaa..)
  9. Om Arkav

Sekian sharing pengalaman saya untuk Ironman Gurye, semoga bisa meng-inspirasi teman-teman untuk mencoba full distance Ironman.

 

 

1 thought on “Ironman Gurye, 10 September 2017”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s